
YAPENSA.OR.ID, - Dalam era pasar global dan persaingan yang semakin ketat, Indikasi Geografis memegang peranan penting untuk menarik minat konsumen dengan cara memberikan nilai tambah pada produk ini, yaitu kualitas produk yang berasal dari kawasan khusus, dengan teknik yang tersendiri. Karakteristik-karakteristik khusus produk dengan perlindungan Indikasi Geografis dengan mutunya yang baik bisa meningkatkan daya saing produk. Oleh sebab itu, pemerintah di berbagai negara di seluruh dunia mendorong perlindungan Indikasi Geografis untuk produk spesifik lokasi.
Dalam hal ini, Yapensa bersama masyarakat petani kopi menginisiasi dan membentuk Asosiasi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Bawakaraeng Sinjai yang didukung sepenuhnya DPRD dan Pemda Sinjai.
Kelanjutannya, Yapensa mengadakan Workshop MPIG Kopi Bawakaraeng Sinjai tanggal 4 April 2019 di Hotel Grand Rofina Sinjai dalam rangka menyatukan seluruh stakeholder untuk mengoptimalkan fungsi dan peran Asosiasi MPIG serta mendapatkan Indikasi Geografis Kopi Bawakaraeng Sinjai.
Selain dihadiri pengurus MPIG Kopi Bawakaraeng Sinjai, hadir pula Kader Petani Kopi, Akademisi dari Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, Balai Besar Industri Hasil Perkebunan (BBIHP) Kementerian Perindustrian wilayah Makassar, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sinjai, Komisi II DPRD Sinjai, dan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Sinjai Barat.
Dr. Zaenudin Toyib, SU, Project Leader Program Bawakaraeng Coffee, Menjelaskan tahapan pengajuan hak Indikasi Geografis terutama dalam hal kelengkapan dokumen dan mengharapkan semuanya akan diselesaikan segera.
Akademisi UNHAS Makassar, Prof. Dr. Ir. Syamsu Alam, M.Si menghubungkan MPIG kopi Bawakaraeng Sinjai dengan isu hutan Desa / perhutanan sosial yang telah ada regulasinya, hal ini dituang dalam materinya berjudul kerjasama Stakeholder (masyarakat sekitar hutan) dalam pengembangan kopi Bawakaraeng.
Dengan adanya regulasi mengenai hutan desa diharapkan masyarakat sejahtera dan hutan pun lebih baik, karena dasar adanya hutan desa itu terbentuk karena adanya Petani yang mengelola hutan secara legal dan merusak, ungkap beliau.
Mantan Kepala Bappeda Bantaeng ini pun menjelaskan percepatan perhutanan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan dan kelestarian lingkungan melalui agroforestri kopi.
"Sayapun sudah diperintahkan oleh Gubernur untuk membuat green design untuk 2 dataran tinggi di kawasan gunung Lompobattang Bawakaraeng dengan gunung Latimojong untuk pengembangan agroforestri kopi, karena agroforestri kopi berdampak baik untuk konservasi air dan lahan" tambahnya.
Pada kesempatan berikutnya, Dr. Asma Assa ST, M. Si dari BBIHP mengajak untuk memspecialtykan kopi karena nilai jualnya lebih tinggi dibanding kopi biasa.
Asma Assa berkata "dalam hal Indikasi Geografis, BBIHP akan mensupport melalui penelitian dengan beberapa parameternya termasuk SNI dan komponen kimia fisika yang mendukung kekhasan yang menjadikan ada brand lokasi yang bisa dijual. Hasilnya nanti akan kami share untuk kelengkapan dokumennya untuk pengajuan indikasi geografisnya dan semoga tahun ini bisa tersertifikasi".
Komisi II DPRD Sinjai yang diwakili H. Abd. Salam Dg. Sibali pun tak tinggal diam pada workshop tersebut, beliau mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Yapensa yang telah membantu DPRD dan Pemda Sinjai dalam hal pengembangan kopi di Sinjai, dimana kita lihat hasil penelitian selama ini menyebutkan kopi Sinjai dari harga dan trendnya naik terus.
Karena workshop ini merupakan kegiatan akhir project Bawakaraeng coffee oleh Yapensa yang didanai oleh Ford Foundation, tak heran antusias Petani dalam ucapan rasa terima kasihnya kepada Yapensa dan stakeholder pun diungkapkan oleh mereka.
Ilham selaku pengurus MPIG Kopi Bawakaraeng Sinjai mengungkapkan terima kasih kepada Yapensa, begitu juga kepada Dinas Pertanian yang telah mendampinginya untuk urusan indikasi geografis selama 2 tahun.
Ilham berkata "untuk berikutnya mohon dari pihak pemprov membantu dalam hal perizinan pengelolaan hutan desa karena di Sinjai Barat dan Borong sangat berpotensi untuk pemanfaatan kawasan hutan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat".
Berbicara mengenai kopi, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sinjai Ibu Marwatiah Parentah mengabarkan target Sinjai akan ekspor tahun 2022 apalagi Bupati Sinjai adalah pengusaha sehingga akan lebih mudah mendukung terutama dari segi pasar.
Pada akhir workshop, Yapensa menyerahkan draft buku persyaratan indikasi geografis yang progressnya sudah 75 persen kepada pengurus MPIG.
(Ikhsn/Prd)